Monday, 14 December 2009

Cerita si Hati untuk Kamu

Awalnya aku tak tau kamu, dan kamu tak tau aku
Kenapa aku pada akhirnya lebih memilih Jakarta di bandingkan Semarang yang tadinya pilihan pertama ku.
Aku datang sebagai teman, lama waktu yang berjalan membentuk kita menjadi sahabat dengan sahabat-sahabat lainnya.
Tapi cerita persahabatan sejati bagiku itu hanya cerita dongeng belaka, hingga pada akhirnya borok kita masing-masing terkuak, mereka tidak bisa menerimaku atas kesalahanku melawan perasaan dan situasi. Aku pun malas merengek, dulu aku benci dan kini sudah mulai tidak peduli.


Aku datang seperti pencuri! seolah-olah mencuri dirimu dari nya, sejujurnya aku merasa bukan pencuri!! tapi kata orang-orang cerdas itu "Mana ada maling ngaku dirinya maling" sekali lagi aku malas merengek, dulu aku benci dan kini sudah muali tidak peduli. 


Sekarang aku bukan orang yang tidak mengenalmu, bukan temanmu, bukan sahabatmu, bukan pencurimu. Tapi  hati mu. Kau seperti amoba yang masuk ke dalam pikiran ku dan terus membelah diri dari hari kehari bulan kebulan hingga akhirnya kau akan resmi mengkontaminasi ku selama 1 tahun lamannya.


Hati selalu merasa tenang bila bersamamu, hati selalu ingin tau dimana kamu, hati selalu siap untuk kamu, untuk kamu maki, untuk kamu meluapkan amarah, untuk kamu bercerita, untuk kamu minta pendapat, untuk kamu minta perolongan, untuk kamu ajak bersenang-senang, untuk kamu sayang, untuk kamu jaga.


Sedihnya kamu sering tidak memahami isi si hati, rasannya seperti terserang stroke ketika hati merasakan kamu hilang. Pekerjaan, Hobi dan Teman kini terlihat seperti penyakit bagi hati. Hati berusaha mengerti agar kamu tidak ikut merasa sakit.


Hati paling benci tidak di cari, tidak di beri kabar kemana kamu pergi, ketika Pekerjaan, Hobi dan Teman jauh lebih menang dari Hati, benci ketika tanpa kamu sadari dia tau sesuatu di balik kamu dan hanya memendam sendiri.



Hati selalu gelisah takut kamu bermain hati dengan hati-hati lain, tapi kamu bilang percayalah itu tidak terjadi.



Si Hati tidak cocok menjadi peragawati, karena dia tidak mulus, hati pernah beberapa kali jatuh dan tergores krena menemanimu, lalu kamu datang dan mengobati. Untuk goresan kecil mudah sekali hilang, yang besar membekas sampai sekarang. Tapi hati sudah tidak peduli karena kamu mengatakan kecantikan hati ada di dalam.

Tuhan memeri kekuatan mental bagi hati menghadapi kamu.


Kamu begitu mengagumkan, terlihat begitu spesial dan antik,
Kamu unik, lucu dan menyenangkan,
Kamu pemeberani, bertanggung jawab, dan berwawasan luas,
Kamu dewasa, hati suka itu.


Entah sampai kapan aku menjadi Hatimu.
Dari hati berubah menjadi rusuk itu impian ku

Masih terlalu jauh 

Hati menulis ini untuk kamu agar selalu tau



Bookmark and Share

No comments: