Friday, 14 August 2009

Superhero yang benar-benar seorang Hero, Para penolong di kala bom

Selama liburan gw menjadi lebih banyakn nonton TV, baik siaran berita, movie, realty show, hingga sinetron. Hampir tiap hari gw bangun sekitar jam 12 siang dan langsung menyalakan TV, acara brita menjadi suguhan pertama gw, pemberitaan tentang kecelakan, pembunuhan, perampokan hingga bom nyaring terdengar, gw merasa dunia ini sungguh tidak aman.. di mana pun, kapanpun.

Bukan hanya di berita gw melihat tentang kecelakaan lalulintas, gw dan keluarga sering berpergian berkendara ke luar kota, saat di jalan sering kali kami mendapatkan macet yang di sebapkan kecekalaan, kadang gw sampai melihat korban yang berdarah-darah dikrubuti banyak orang, gw berpikir kenapa mereka malah berkerumun?? Hey.. orang itu mengeluarkan banyak darah dan gw yakin dia juga menahan rasa sakit yang amat sangat, malah di jadikan tontonan.

Beberapa warga berusaha memberhentikan mobil yang lewat untuk membawa korban ke rumah sakit, tapi mereka enggan, dan terus melaju. Biasannya mobil pripadi atau angkutan. Disebuah setasiun TV pernah di bahas betapa salah kaprahnya kehidupan di negri ini. Sikap individualis dan tidak mau repot menjadi momok bagi sebagian orang, bagi pemilik mobil entah karena mereka diburu waktu karena pekerjaan mereka, atau tidak mau mobil pribadi kesayangan mereka kotor karena becak darah dan di naiki orang yang mereka tidak kenal, membuat mereka mengurungkan niat untuk menolong. Disisilain sering kali penolong malah menjadi orang yang paing repot pada akhirnya, mereka di jadikan penanggung jawab atas biaya rumah sakit karena dianggap mampu, berurusan dengan polisi sebagai saksi atau lebih parahnya, salah-salah mereka di dakwa menjadi tersangka –‘

Sedih memang tapi inilah realita, barusan gw membaca milis milik seseorang yang menceritakan para penolong yang menggunakan hati… bukan pikiran dan logika dalam bertindak, gw sungguh kagum dan malah mendoakan orang-orang tersebut. Walau tanpa itu pun gw yakin Tuhan akan membalas kebaikan tulus mereka

“Dari penuturan supir Timothy Mackay, Presiden Direktur PT Holcim Indonesia Tbk., misalnya, terungkap bagaimana seorang warganegara Singapura, yang saat itu cuma memakai kaus singlet (mungkin penghuni hotel yang belum sempat berpakaian ketika bom meledak), mengabaikan keselamatan dirinya untuk menolong Timothy Mackay. Walau tidak mengenal Timothy dan juga Fathul sang supir, warganegara Singapura itu mempertaruhkan keselamatannya dengan masuk ke dalam mobil sedan milik Timothy, memegang tandu tempat Timothy yang terluka parah berbaring, dan bertahan seperti itu saat mobil melaju dengan pintu yang terbuka menuju rumah sakit. Begitu juga dengan seorang karyawan di perkantoran di sekitar ledakan yang juga membantu memegang tandu saat mobil yang kedua pintunya tidak bisa ditutup itu melaju ke rumah sakit. “Mereka membantu saya mengantarkan Pak Timothy sampai ke rumah sakit dan menunggu sampai dokter datang menolong,” ujar Fathul. Setelah itu, menurut Fathul, mereka kembali ke lokasi dengan naik taksi. “Saya bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih.””



Waktu pemberitaan bom 17 juli ini mencuat, gw sempet melihat tayangan yang menggambarkan Timothy Mackay dengan keadaan yang mengenaskan, membuat gw tidak habis pikir… orang di sekitar beliau entah warga, wartawan atau apa lah.. mereka malah sibuk mengambil gambar! Membuat video amatir! Damn… TOLONG DONK, kenapa kalian bukan malah mencari bantuan? alm Timoty pun saat itu sudah tidak bisa berpikir jernih, dia sudah tidak tau apa yang di lakukan orang-orang itu, cuman berusaha mengelap darah dan menahan rasa sakitnya, yang akhirnya merenggut nyawanya… sungguh ngga punya hati orang-orang itu


Elisabeth Manuela Babina Muzu (5) korban termuda dalam peledakan bom di depan Kedubes Australia

“Masih banyak kisah heroik yang muncul pada saat bom meledak di JW Marriot dan Ritz Carlton. Melihat kisah-kisah heroik semacam itu, ingatan kita kembali pada sebuah foto dramatis yang dimuat di berbagai media cetak pada saat bom meledak di depan Kedubes Australia tahun 2004 lalu. Di foto itu terlihat sang pria membopong seorang bocah perempuan yang bersimbah darah. Bagian belakang gadis cilik itu luka parah. Achmad Usman, pria itu, menceritakan dengan mata berkaca dan suara bergetar detik-detik dia menantang maut untuk menyelamatkan sang gadis. “Waktu mendengar ledakan, saya langsung berlari menuju pusat ledakan. Saya yakin di sana akan banyak korban,” ujarnya, menjawab pertanyaan saya mengapa dia justru mendekati pusat ledakan pada saat semua orang berlari menjauh. Pada saat sedang membantu mengangkat dan menyelamatkan beberapa korban bom itulah dia melihat seorang satpam sedang menggendong seorang bocah perempuan. Tubuh sang satpam limbung. Achmat lalu mengambil bocah itu dan melarikannya ke sebuah taksi. Achmad meletakkan gadis yang dikira sudah tewas itu di bagasi belakang taksi tersebut. Namun betapa kagetnya dia saat sang bocah merintih. Tanpa berpikir panjang lagi dia dan supir taksi memacu kendaraan ke rumah sakit. Berkat tindakan Achmad yang tidak mengindahkan keselamatan dirinya itu, belakangan diketahui bocah tersebut selamat. Achmad mengaku sangat bahagia ketika melihat sang bocah sudah bisa tertawa ketika mereka berjumpa di sebuah rumah sakit di Singapura. Kepahlawanan seperti itu yang juga ditunjukkan Haji Bambang saat bom Bali pertama meledak di Paddys Cafe dan Sari Club di Bali. Sebelas jam Haji Bambang – tanpa makan dan minum s menolong para korban. Kisah heroik pria ini kemudian membuatnya dinobatkan sebgai “Asian Hero 2003” oleh Majalah TIME. Tetapi, pada saat penghargaan diberikan, Haji Bambang memilih tidak datang ke Tokyo. “Pertama, saya melakukan semua itu karena sebagai manusia sudah seharusnya saya menolong sauadara-saudara saya saat mereka mengalami musibah,” ujarnya. “Kedua, bagaimana perasaan para korban dan saudara-sauadara saya di Bali yang sedang menghadapi kesulitan akibat turis yang ke Bali merosot tajam, sementara saya harus memakai jas dan naik pesawat untuk menerima penghargaan,” ungkapnya. Soal hadiah Rp 150 juta yang juga seharusnya dia terima? “Semua itu tidak bisa membeli rasa kemanusiaan saya.””

Gw cuman bisa salut ma orang-orang diatas



Bookmark and Share

No comments: